Selasa, 30 November 2021
Antara Buku dan peluru
Minggu, 21 November 2021
Mahasiswa "BBM"
Dalam catatan sejarah, generasi Pemuda dikenal sebagai generasi yang tangguh, pantang menyerah dan berani menghadapi berbagai rintangan dan tantangan. Pramoedya Ananta Toer adalah salah satu contoh sosok yang pemberani dan pantang menyerah meski akhirnya ia merapat ke jeruji tahanan. Ia adalah sosok intelektual pemberani yang juga gigih. Meskipun berkali-kali karyanya dilarang, Pramoedya Ananta Toer tidak pernah berhenti untuk tetap berkarya dan membebaskan pikirannya. Bahkan salah satu karya monumentalnya lahir dari jeruji besi, yaitu bumi manusia, anak semua bangsa, Jejak Langkah, dan rumah kaca. Keempat karya tersebut sering dikenal dengan tetralogi buru. Buru adalah nama sebuah pulau di mana Pramoedya di penjara.
Menjadi harga mati bahwa mahasiswa sebagai generasi muda dituntut untuk melanjutkan tongkat estafet perjuangan intelektual para pendahulunya. Hal ini bisa diwujudkan dengan cara menjadi mahasiswa "BBM" (berorganisasi, baca, dan menulis).
Berorganisasi adalah sebuah lahan subur bagi tumbuh kembangnya kepedulian sosial bagi para mahasiswa. Organisasi ini bisa dilakukan di dalam kampus maupun luar kampus. Banyak keuntungan yang diperoleh dari berorganisasi, selain mendapatkan teman (relasi), Mahasiswa juga bisa belajar berkomunikasi dengan berbagai pihak dalam pengembangan organisasi tersebut. Melalui organisasi inilah seorang siswa bisa mengaktualisasikan dirinya kepada masyarakat secara langsung.
Adapun membaca adalah sebuah kebiasaan yang wajib dimiliki oleh para mahasiswa. Membaca adalah sebuah cara untuk membuka mata dan pikiran untuk menembus batas-batas kejumudan, juga untuk mengatasi keterbatasan dan ketertinggalan.
Dalam konteks ini, kita diingatkan dengan sosok Soekarno dengan pidato-pidato heroiknya yang banyak berperan dalam proses kemerdekaan RI banyak pemikirannya yang lahir berkat membaca buku. Di antaranya buku yang mempengaruhi pemikiran Soekarno adalah karya-karya Sun Yat Sen yang berjudul San Min Chu-l, serta buku-buku karya Karl Max dan Thomas Jefferson dan beberapa karya lainnya berkat kegiatan membaca inilah pidato kenegaraannya bisa menginspirasi banyak orang sekaligus mendapatkan pujian dari berbagai kalangan tidak hanya dari Indonesia tetapi juga dunia.
Di era serba teknologi seperti sekarang ini, kegiatan membaca menjadi lebih mudah dan luas cakupannya. Kegiatan membaca tidak terbatas pada bahan bacaan tercetak saja, tetapi juga non cetak (digital). Kemajuan teknologi ini harus ditanggapi dengan positif oleh para generasi muda untuk mengembangkan kualitas intelektual, Bukan sebaliknya untuk kegiatan yang kurang bermanfaat.
Selanjutnya adalah menulis. Pada dasarnya menulis bukanlah sekedar kemampuan dalam menuliskan ulang bentuk-bentuk huruf ke dalam lembaran kertas putih, melainkan lebih pada kemampuan dalam mengomunikasikan sebuah ide atau gagasan kepada orang lain melalui bentuk tulisan. Menulis juga dimengerti sebagai sebuah cara mengikat makna yang membuat Pikiran menjadi abadi dan menyejarah.
Menulis merupakan proses keberlanjutan dari kegiatan membaca. Melalui menulis, seorang mahasiswa bisa menyampaikan ide yang merupakan kritik atas kondisi sosial yang terjadi di negeri ini cara ini tentu bisa membantu menyampaikan uneg-uneg tanpa harus terjun langsung ke jalanan untuk melakukan demonstrasi. Ada banyak ruang yang bisa digunakan untuk menulis oleh mahasiswa, diantaranya melalui koran. Menulis di koran tidak tak selalu harus di kolom opini, tetapi juga bisa kolom lain, baik Kalau mahasiswa maupun kolom suara pembaca.
Bahkan, keberadaan kolom suara pembaca pun mempunyai manfaat yang sangat besar bagi perubahan. Di Amerika orang yang menulis di kolom suara pembaca disebut sebagai The influential American, orang-orang Amerika yang berpengaruh. Pasalnya, isi dari kolom suara pembaca adalah kritik sosial yang datang langsung dari masyarakat kalangan bawah yang harus didengar oleh banyak orang, tidak terkecuali oleh pemerintah.
Melihat pentingnya berorganisasi, membaca dan menulis maka sudah sepantasnya setiap mahasiswa menjadi mahasiswa "BBM". Semoga dengan adanya ikhtiar ini, peran mahasiswa sebagai Agent of Change bisa benar-benar dirasakan oleh masyarakat luas, dan nantinya mereka mampu memimpin bangsa ini jauh lebih baik lagi.
Rabu, 27 Oktober 2021
Semangat kebangsaan pemuda dalam mengambil peran perubahan
Senin, 18 Oktober 2021
Kitab Qurrotul Uyun Fasal ke 16 (Part 3)
Minggu, 17 Oktober 2021
Kitab Qurrotul Uyun Fasal ke 16 (Part 2)
Kitab Qurrotul Uyun Fasal ke 16 (Part 1)
Jumat, 08 Oktober 2021
Bidadari Surga
Selasa, 28 September 2021
KUPU-KUPU (RENUNGAN TENTANG KEBAHAGIAAN)
Minggu, 26 September 2021
KADO TERINDAH
Senin, 20 September 2021
NO EXCUESS
Minggu, 19 September 2021
Ketika Buku Menjadi Racun
"BUKU adalah makanan bagi jiwa dan pikiran. buku juga bagaikan obat bagi penyakit yang mendera perasaan dan pikiran manusia. jika buku mengandung racun, jika buku dipalsukan akan timbul bahaya kerusakan yang sangat besar ", demikian Ali Syariati mengemukakan peran penting buku.
Buku adalah alat ilmiah dalam dunia pendidikan selama buku menjadi sarana pembelajaran yang belum tergantikan oleh apapun. buku dan proses pembelajaran ibarat dua sisi mata uang yang sulit dipisahkan. Buku akan menjadi bermanfaat jika digunakan untuk belajar, sedangkan proses pembelajaran pun akan berjalan dengan maksimal jika ada buku.
Dewasa ini, pencorengan dunia pendidikan kembali terjadi. Fenomena ini diwarnai dengan beredarnya buku lembar kerja siswa (LKS) yang menceritakan tentang kisah "Bang Maman dari Kali Pasir" yang mengandung cerita istri simpanan. Ironisnya, cerita pada buku LKS ini diperuntukkan kepada anak-anak kelas 2 SD, di mana saat usia anak mulai belajar membaca dan memahami realitas kehidupan. Apa yang mereka baca akan berdampak pada perilaku mereka sehari-hari.
Jika kita merujuk pada apa yang diungkapkan Ali Syariati, cerita Bang Maman bukan hanya sebuah racun mematikan bagi moral generasi penerus bangsa, tetapi juga menjadi gambaran sejauh mana kondisi pendidikan di Indonesia.
SELEKTIF DALAM MEMILIH BUKU
sebagaimana kita ketahui, buku adalah jendela dunia, juga sebuah samudra ilmu pengetahuan. Dengan menyelaminya, kita akan mendapatkan hal-hal baru yang belum pernah kita temui sebelumnya. Buku juga sebuah portal untuk memasuki dunia lain Dimana kita tidak perlu susah payah datang langsung ke tempat aslinya. Dalam sejarah, keberadaan buku mendapatkan penghormatan yang sangat mulia. Sebagaimana dikatakan oleh Syekh Az-Zarnuji bahwa "Sebagian dari memuliakan ilmu adalah dengan memuliakan buku". Sebuah ungkapan sederhana namun sarat makna jika dikaji lebih dalam.
Barbara Tuchman mengatakan "buku adalah mesin perubahan, jendela dunia, mercusuar yang dipancarkan di Samudra waktu". Dan seorang teolog Denmark, Thomas V Batholin menambahkan, "Tanpa buku Tuhan diam, keadilan terbenam, sains alam macet, sastra bisu dan seluruhnya dirundung kegelapan". Karena dengan buku pula, peradaban suatu bangsa akan tercipta.
Baik pihak sekolah maupun pemerintah harus saling membahu mengevaluasi isi buku-buku yang diperuntukkan bagi siswa. Misalnya buku-buku untuk anak usia 5 sampai 8 tahun haruslah buku yang mempunyai nilai-nilai moral yang kuat, misalnya tentang pentingnya persahabatan. Buku tentang persahabatan jauh lebih penting daripada buku tentang istri simpanan. Buku-buku tersebut akan jauh lebih menarik jika disajikan dalam bentuk picturebook (buku bergambar) dan easy to read book (buku yang mudah dibaca).
KRISIS MORAL
Undang-undang nomor 20 tahun 2003 pasal 3 tentang sistem pendidikan nasional(Sisdiknas) menjelaskan bahwa fungsi pendidikan nasional adalah mencerdaskan kehidupan bangsa yang berakhlak mulia. Namun sekali lagi fungsi ini tampak belum berjalan sebagaimana mestinya. Krisis moralitas dan intelektualitas masih terus mewarnai dinamika pendidikan bangsa ini. Mulai dari aksi tawuran antar siswa hingga guru yang melakukan aksi kekerasan terhadap muridnya.
Indonesia adalah bangsa yang besar serta kaya akan sejarah dan kekayaan alam yang melimpah ruah. Selain itu Indonesia mempunyai adat istiadat, bahasa dan agama yang beraneka ragam. Nilai-nilai Luhur bangsa seperti ini lah yang seharusnya dimiliki dunia pendidikan kita.
Nilai-nilai luhur bangsa akan jauh lebih bermanfaat ketimbang cerita "Bang Maman dari Kali Pasir". Karena bagaimanapun, cerita "Bang Maman dari Kali Pasir" adalah bentuk dari kemiskinan intelektualitas bangsa ini yang harus dibuang jauh-jauh.
Sebagaimana langkah awal untuk menanamkan nilai-nilai luhur bangsa adalah melalui buku. sekali lagi, buku menjadi sarana yang tepat untuk menanamkan nilai-nilai luhur bangsa. Langkah ini harus diikuti oleh para guru untuk gemar membaca. Bukan hanya seruan belaka untuk gemar membaca, melainkan disertai dengan langkah nyata.
Sebagaimana pepatah Indonesia mengatakan "Guru kencing berdiri murid kencing berlari". Jika seorang guru yang tidak suka membaca memberi perintah kepada siswa untuk gemar membaca, bagaimana hal ini bisa terlaksana? Seorang guru yang baik akan memberi teladan bagi para muridnya, begitu pula sebaliknya, guru yang tidak baik akan memberikan teladan yang tidak baik pula. Pendek kata, guru adalah panutan siswa. Untuk itu, seorang guru harus banyak membaca.
Selain memberi contoh kepada siswa, juga agar mengetahui isi buku yang tepat untuk dibaca siswa. Memberi contoh konkrit adalah langkah yang sangat berguna bagi siswa, karena dengan dimulai dari pihak pribadi guru yang gemar membaca akan membentuk karakter siswa untuk cinta baca, sehingga mereka nantinya akan tumbuh jadi pribadi yang bijaksana.
berkaitan dengan itu, seorang Cerpenis dan Novelis Austria, Franz Kafka, mengatakan "buku harus menjadi tampak untuk menghancurkan lautan beku di dalam diri kita".
Kamis, 16 September 2021
Nangtung salam damai
Aku mempunyai cerita yang mungkin semua orang tidak percaya dengan ceritaku ini. tapi ini aku merasakannya sendiri. untuk para pembaca mohon jangan menilai buruk saya terlebih dahulu, tapi inilah cerita saya, inilah yang saya rasakan ketika saya berada di sana. saya tidak ada niat untuk menjatuhkan kan beberapa instansi ataupun mahasiswa lain. tapi, inilah yang harus saya sampaikan agar membuat hati saya tenang kedepannya dan berbagi cerita kepada teman-teman semua.
Dari pertama, Awalnya aku biasa saja menjalani rutinitas sesuai dengan rundown acara yang telah disusun oleh para panitia. bermain berbincang dan berbaur kepada masyarakat sampai tiba malam hari ketika kita sama-sama bernyanyi di belakang rumah tempat kita bernaung. itu sangat tidak Terlupakan Karena jarang kita bisa menikmati indahnya suasana desa dan bernyanyi bersama dengan teman-teman. setelah kegiatan itu aku langsung pergi tidur karena badanku sudah tidak enak dari awal tapi aku tidak memikirkannya karena jika aku terlalu berlebihan merasakan, yang ada malah tambah semakin parah.
tepat pada jam 3 malam temanku membangunkanku dengan alasan, aku harus salat Padahal belum waktunya. maklumlah temanku ini Nasrani jadi dia tidak tahu jam berapa seharusnya orang Islam itu salat. karena sudah di Bangunkan aku tidak bisa tidur lagi dan aku memutuskan untuk bangun untuk bersiap-siap melaksanakan salat subuh berjamaah di masjid terdekat.
Setelah beberapa saat perutku tiba-tiba mulas ingin buang air besar dan ada beberapa kamar mandi yang bisa digunakan untuk mahasiswa laki-laki untuk membersihkan diri ataupun MCK dan sebagainya. yang pertama ada di samping dapur, kedua ada di masjid dan terakhir ada di MCK . diss claimer dulu ya teman-teman sebelumnya. untuk kamar mandi pertama yang ada di samping dapur itu kamar mandinya tidak ada pintunya dan saya risih jika harus buang air besar di situ karena jujur itu sangat terbuka walaupun tidak ada orang di sekitar kamar mandi. yang kedua ada di MCK perlu diketahui sebelumnya MCK ini terletak jauh dari perkampungan masyarakat dan untuk ke MCK kita membutuhkan waktu sekitar 5 menit atau lebih untuk sampai ke sana dan jalannya pun harus melewati beberapa pohon Rindang yang mungkin membuat suasana menjadi mencekam ketika malam hari. yang terakhir dan paling aman ialah di mesjid karena sekalian mungkin aku harus menunggu adzan subuh untuk salat berjamaah di Masjid. akhirnya aku memutuskan untuk buang air besar di kamar mandi dekat masjid.
Baru saja aku masuk kamar mandi ada beberapa keganjalan yang menurutku tidak masuk akal yang pertama ada suara orang berbisik di samping Masjid lebih tepatnya di area tempat berwudhu para jamaah. suara itu Terdengar sangat jelas dan aku tidak mungkin salah mendengar karena di sekitar situ hanya ada aku saja dan belum ada orang sama sekali. ketika selesai buang air besar aku keluar dan memutuskan untuk wudhu sekaligus menunggu adzan subuh. niat ingin melakukan salat tahajud Tapi semua itu terhenti karena dari arah rumah yang ada di samping Masjid ada orang yang memanggil dengan teriakan "kadieu!!!" dan itu sangat keras. itu sangat jelas di telingaku sangat jelas sekali. spontan Hal itu membuat bulu Kuduk saya merinding sejadi-jadinya. aku sempat berhenti beberapa detik karena kejadian itu. kamar ada seseorang yang Melambaikan tangannya kepada aku dari arah belakang rumah tersebut di balik dinding dengan warna tubuh gelap pekat terlihat dari balik jendela dan pintu. dari kejadian tersebut aku memutuskan untuk tetap berada di samping Masjid karena aku bingung harus kemana. jikalau aku harus ke rumah, itu harus menempuh jalan yang masih sepi dengan suasana malam nya. aku tetap menunggu di samping Masjid. aku tidak memberanikan diri untuk masuk ke dalam masjid karena menurutku ada saja gangguan ketika kita melaksanakan salat tahajud di dalam masjid seperti beberapa kejadian yang pernah aku alami sebelumnya. suasana malam dengan angin yang masih sepoi-sepoi dan suara bambu yang masih Terdengar sangat jelas dari arah depan masjid membuat suasana semakin mencekam. sambil membaca beberapa ayat ataupun doa-doa yang aku hafal aku menunggu orang untuk sampai ke masjid dan akhirnya ada mang Ono yang masuk ke masjid untuk adzan subuh.
setelah kejadian itu Aku tidak berani menceritakan pengalaman ini kepada siapa pun sebelumnya karena aku masih bermukim di sana dan masih ada beberapa hari untuk tinggal di sana. sebelum pulang aku sempat bercerita kepada Mang Ono salah satu warga yang sering ke masjid tentang kejadian yang kualami, dan ternyata benar hal itu. aku semakin merinding dibuatnya. Dan sosok bayangan hitam yang ada dibalik pintu hanya ingin menyapa kepada warga baru disana.
pengalaman ini tidak lebih sama dengan pengalaman-pengalaman horor yang lainnya tapi ini aku merasakan sangat berbeda dan tidak hanya sekali dua kali tapi selama saya berada di sana dan kejadiannya pun sama rumah di samping Masjid.