Minggu, 02 Januari 2022

Sosok Gus Rouf yang Kealiman dan Kecerdasannya Setara dengan Gus Baha’

Almarhum Gus Rouf adalah kakak kandung dari Gus Baha’ yang mempunyai Nama lengkap Kyai Abdul Rouf Nur Salim adalah putra kedua Al Maghfurlah KH Nur Salim Pendiri pondok pesantren LP3iA Narukan-Kragan, Rembang.

Gus Baha’ adalah putra ketiga Al Maghfurlah KH. Nur Salim. Sedangkan Gus Rouf ini wafat beberapa tahun yang lalu sebelum viralnya Gus Baha’ di media social sebagai syaikhul youtube (Guru Youtube).

Siapa sih yang tidak kenal Gus Baha’ ? Kyai asal Rembang kelahiran Rembang 15 Maret 1970 kini masuk di jajaran Ro’is Syuriyah PBNU. Beliau ulama’ ahli Tafsir Al Qur’an yang merupakan murid kesayangan Al Maghfurlah KH. Maimoen Zubair Sarang yang saat ini menggemparkan media sosial dengan ceramah-ceramahnya yang mampu menghipnotis semua kalangan.

Almarhum Gus Rouf adalah kakak Gus Baha’ yang bertempat tinggal tidak jauh dari rumah Gus Baha’ hanya berjarak sekitar 50 meter dan masih di komplek Ponpes LP3iA, beliau wafat tanggal 07 April 2017 M / 21 Rojab 1439 H beliau meninggalkan seorang istri dan dua orang putra yaitu Gus Muhammad (9 th) dan Gus Adam (6 th).

Diceritakan oleh K. Moh. Thoyib yang akrab sehari-hari dipanggil Mbah Oyek yakni salah satu santri Almaghfurlah KH. Nur Salim “ saya waktu mondok di kyai Nur Salim saya tidur di ndalem beliau, sehingga saya sering komunikasi dengan putra-putra beliau terutama Gus Rouf, hampir setiap malam saya di suruh membuatkan makanan kesukaaan beliau yaitu Mie Ayam dan kopi karena beliau tidak pernah tidur pada malam hari, Gus Rouf ini persis sekali dengan Gus Baha’ terutama dalam hal memakai kopyah atau songkok yang selalu miring dan rambutnya kelihatan”.

Mbah Oyek yang juga Pengasuh Yayasan Pendidikan Al Qur’an “HIDAYATUL QUR’AN” Tegal Mulyo Kragan ini mengatakan bahwa antara Gus Rouf dan Gus Baha’ mempunyai kesamaan yaitu sama-sama Ahli Al Qur’an dan Da’imul wudhu’ atau selalu melanggengkan Wudhu’.

Pernah ketika saya muthola’ah menghafal al Qur’an seingat saya Juz 17 Tiba-tiba Gus Rouf lewat di depan saya dan membenarkan bacaan saya yang salah sambil berkata “saya ini gak hafal Al Qur’an, tapi kalau ada orang baca Al Qur’an saya bisa meneruskan dan membenarkan kalau ada bacaan yang salah” ungkap mbah Oyek yang juga menjabat sebagai ketua Lembaga Da’wah PC. NU Lasem (LD PCNU Lasem) ini.

Diceritakan juga oleh Damarjati Ali Marwazi teman sepondok Gus Rouf asal Mayong Jepara “Gaya bicara, penampilan serta gaya berjalan maupun gaya yg lain 11 – 12 dengan Gus Baha’, Lah iya wong kakak beradik kok Kecerdasannya juga sebanding dan seimbang”.

“Yang membedakan Gus Rouf dan Gus Baha’ kendati sama-sama Mondok di Sarang, ternyata Gus Rouf mondok di Pondok Pesantren Ma’hadul ‘Ulum Asy-Syari’yyah (MUS) yang waktu itu di asuh Almaghfurlah KH. Abdur Rohim Ahmad sedangkan Gus Baha’ mondok di pondok pesantren Al Anwar yang di asuh al maghfurlah KH. Maimoen Zubair” terang Damarjati Ali Marzawi.

Beliau Almarhum Gus Rouf kalau belajar serius banget, namun tetap humoris ketika musyawarah dan banyak tawa ketika bercanda,” jelasnya. Bahkan Damarjati Ali Marwazi ini beberapa kali mampir di ndalem (rumah) beliau (Gus Rouf) sebelum meninggal dunia. “Saya malah tidak sowan Gus Baha’ meskipun satu rumah, karena belum viral, he he…,” kelakarnya.

Menurut Damarjati, kakak kandung Gus Baha’ tersebut adalah penghuni kamar 51 paling ujung, nomor kamar santri paling bontot. Sedangkan dirinya menghuni kamar 49, Ponpes MUS kompleks Darul Ulum (DU) barat paling dekat dengan MGS (Madrasah Ghozaliyah Syafi’iyah).

Yang paling teringat dan tak pernah lupa imbuh Damarjati Ali Marwazi adalah komitmen almarhum Gus Rouf untuk selalu menghidupkan malam dengan muthola’ah (Belajar dan Membaca kitab).

“Far… Kita jaga Darul Ulum (DU) barat ini jangan sampai lampu padam karena tidak ada yang belajar dan muthola’ah. Kalo sampean, sudah ngantuk bangunkan saya, kalo saya capek ntar kita ngopi, ha ha ha,” canda Gus Rouf.

Tapi kata-kata Gus Rouf benar-benar nyata, DU (Darul Ulum) barat bertahun-tahun lampu terasnya tidak pernah mati. “Lampu teras tidak pernah mati karena ada yang belajar dan mengaji. Ndak tahu setelah itu. Setelah saya boyong ke Kudus,” jelasnya.

Menurut Damarjati, andai beliau Gus Rouf belum dipanggil Allah SWT (wafat) , mungkin ada Matahari kembar yang moncer menerangi Indonesia dalam berdakwah.

“Keduanya sama-sama cerdas, luwes, lugas, humoris dan dicintai Umat Islam Nusantara ini. Yaitu kakak beradik Gus Rouf dan Gus Baha’” Ungkapnya.

“Malah yg sering membangunkan Gus Rouf adalah beliau yg mulia dan akhlaqnya luar biasa Almarhum Gus Adib (KH. M. Adib Abdurrohim) yang setahun yang lalu telah sowan kehadirat Allah SWT, Setelah bangun lanjut musyawarah. Jadi tidak ngantuk lagi sampai larut malam bahkan menjelang Shubuh, karena sudah tidur walau satu jam dan sudah berkeringat karena debat bermusyawarah. Setelah Musyawarah inilah setiap malam saya selalu bersama Almarhum Gus Rouf. Karena saya puasa Dala’il Khoirot jadi ada alasan untuk bisa makan Sahur di akhir malam” damarjati menambahkan.

“Semoga bermunculan generasi-generasi seperti Gus Rouf dan Gus Baha’. Semoga Almarhum diampuni segala dosanya, diterima amalnya dan dimuliakan di sisi-Nya…Aamiiiiin. Al Fatihah…,” kata Damarjati.

By: H Abdul Hakim

Tidak ada komentar:

Posting Komentar