Selasa, 30 November 2021

Antara Buku dan peluru

"Buku adalah peluru untuk dijadikan senjata melawan kehidupan, apalagi di zaman globalisasi sekarang ini. Dan ilmu itu bisa diperoleh dengan membaca" (Dauzan Farook). Sebuah ungkapan yang singkat dan sarat akan makna tentang pentingnya ilmu dan buku.

Buku dan peluru, keduanya sama tetapi juga berbeda. Keduanya sama-sama berfungsi sebagai senjata untuk perang. Hanya saja peluru lebih identik dengan kekerasan, sedangkan buku lebih identik dengan memberantas kebodohan.

Pada era globalisasi, musuh utama Indonesia bukan lagi para penjajah yang dilengkapi dengan kendaraan perang dan segudang amunisi, melainkan kebodohan masyarakat. Dalam konteks ini, buku tentu menjadi senjata yang tepat untuk melawannya.

Dewasa ini, aksi tawuran antar pelajar dan mahasiswa, serta bentrok antar warga dan suku masih saja sering terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Fenomena ini tentu sama sekali tidak bisa dibiarkan begitu saja. Jika merujuk pada yang dikatakan oleh Dauzan Farook, musuh utama bangsa ini di tengah arus globalisasi adalah moral dan kebodohan. Dan keduanya bisa diperangi dan diberantas dengan ilmu yang bisa diperoleh melalui buku.

Tidak bisa dipungkiri bahwa buku salah satu sumber ilmu. Buku dianggap sebagai jendela dunia karena berbagai pengetahuan ada di dalamnya. Dari buku, banyak para orang besar yang lahir, mulai dari para intelektual, pengusaha hingga presiden. Tentu kita ingat dengan sosok Soekarno yang disebut sebagai bapak proklamator sekaligus menjadi bapak bangsa (founding father) yang banyak berperan dalam proses kemerdekaan RI, banyak pemikiran-pemikirannya yang lahir dari membaca buku.

Sebagaimana diungkapkan seorang cerpenis dan novelis Austria, Franz Kafka, bahwa "Buku harus menjadi kampak untuk menghancurkan lautan beku di dalam diri kita". Tentu yang dimaksud dengan lautan beku adalah kebodohan di dalam diri kita. Maklum saja, negeri yang sudah merdeka sejak tahun 1945 ini masih saja dilanda krisis intelektual dan moral. Aksi tawuran dan bentrokan misalnya.

Sebagai sumber ilmu, buku tidak seharusnya dianggap sebagai barang yang mahal. Buku bisa diperoleh di perpustakaan dan fasilitas baca lain yang tersedia di setiap daerah tanpa harus membelinya.

Baik pemerintah maupun seluruh lapisan masyarakat harus saling bersinergi dalam mengupayakan kemudahan akses informasi bagi setiap orang secara gratis dan humanis. Karena bagaimanapun, setiap orang mempunyai hak untuk tahu dan mendapatkan informasi yang dibutuhkan untuk meningkatkan taraf hidup mereka.

Peringatan Hari Pahlawan yang diperingati pada tanggal 10 November kemaren, menjadi momentum yang tepat untuk kembali bangkit membangun gerakan nasional dalam memberantas kebodohan !!!

Minggu, 21 November 2021

Mahasiswa "BBM"

Selama ini, mahasiswa digadang-gadang sebagai agen perubahan (Agent of Change). Mahasiswa yang hampir kesemuanya adalah para pemuda, dipercaya mempunyai semangat dan motivasi yang tinggi untuk memajukan bangsa. Terlebih dengan kondisi bangsa yang karut-marut seperti sekarang ini, peran pemuda dan para mahasiswa sangat dinantikan kiprahnya. Bung Karno, Presiden pertama sekaligus founding father, pernah mengatakan "berikan aku 1000 orang tua, Niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya, berikan aku 1 Pemuda, Niscaya akan kuguncangkan dunia ". Sebuah ungkapan yang singkat namun sarat dengan makna.

Dalam catatan sejarah, generasi Pemuda dikenal sebagai generasi yang tangguh, pantang menyerah dan berani menghadapi berbagai rintangan dan tantangan. Pramoedya Ananta Toer adalah salah satu contoh sosok yang pemberani dan pantang menyerah meski akhirnya ia merapat ke jeruji tahanan. Ia adalah sosok intelektual pemberani yang juga gigih. Meskipun berkali-kali karyanya dilarang, Pramoedya Ananta Toer tidak pernah berhenti untuk tetap berkarya dan membebaskan pikirannya. Bahkan salah satu karya monumentalnya lahir dari jeruji besi, yaitu bumi manusia, anak semua bangsa, Jejak Langkah, dan rumah kaca. Keempat karya tersebut sering dikenal dengan tetralogi buru. Buru adalah nama sebuah pulau di mana Pramoedya di penjara.

Menjadi harga mati bahwa mahasiswa sebagai generasi muda dituntut untuk melanjutkan tongkat estafet perjuangan intelektual para pendahulunya. Hal ini bisa diwujudkan dengan cara menjadi mahasiswa "BBM" (berorganisasi, baca, dan menulis).

Berorganisasi adalah sebuah lahan subur bagi tumbuh kembangnya kepedulian sosial bagi para mahasiswa. Organisasi ini bisa dilakukan di dalam kampus maupun luar kampus. Banyak keuntungan yang diperoleh dari berorganisasi, selain mendapatkan teman (relasi), Mahasiswa juga bisa belajar berkomunikasi dengan berbagai pihak dalam pengembangan organisasi tersebut. Melalui organisasi inilah seorang siswa bisa mengaktualisasikan dirinya kepada masyarakat secara langsung.

Adapun membaca adalah sebuah kebiasaan yang wajib dimiliki oleh para mahasiswa. Membaca adalah sebuah cara untuk membuka mata dan pikiran untuk menembus batas-batas kejumudan, juga untuk mengatasi keterbatasan dan ketertinggalan.

Dalam konteks ini, kita diingatkan dengan sosok Soekarno dengan pidato-pidato heroiknya yang banyak berperan dalam proses kemerdekaan RI banyak pemikirannya yang lahir berkat membaca buku. Di antaranya buku yang mempengaruhi pemikiran Soekarno adalah karya-karya Sun Yat Sen yang berjudul San Min Chu-l, serta buku-buku karya Karl Max dan Thomas Jefferson dan beberapa karya lainnya berkat kegiatan membaca inilah pidato kenegaraannya bisa menginspirasi banyak orang sekaligus mendapatkan pujian dari berbagai kalangan tidak hanya dari Indonesia tetapi juga dunia.

Di era serba teknologi seperti sekarang ini, kegiatan membaca menjadi lebih mudah dan luas cakupannya. Kegiatan membaca tidak terbatas pada bahan bacaan tercetak saja, tetapi juga non cetak (digital). Kemajuan teknologi ini harus ditanggapi dengan positif oleh para generasi muda untuk mengembangkan kualitas intelektual, Bukan sebaliknya untuk kegiatan yang kurang bermanfaat.

Selanjutnya adalah menulis. Pada dasarnya menulis bukanlah sekedar kemampuan dalam menuliskan ulang bentuk-bentuk huruf ke dalam lembaran kertas putih, melainkan lebih pada kemampuan dalam mengomunikasikan sebuah ide atau gagasan kepada orang lain melalui bentuk tulisan. Menulis juga dimengerti sebagai sebuah cara mengikat makna yang membuat Pikiran menjadi abadi dan menyejarah.

Menulis merupakan proses keberlanjutan dari kegiatan membaca. Melalui menulis, seorang mahasiswa bisa menyampaikan ide yang merupakan kritik atas kondisi sosial yang terjadi di negeri ini cara ini tentu bisa membantu menyampaikan uneg-uneg tanpa harus terjun langsung ke jalanan untuk melakukan demonstrasi. Ada banyak ruang yang bisa digunakan untuk menulis oleh mahasiswa, diantaranya melalui koran. Menulis di koran tidak tak selalu harus di kolom opini, tetapi juga bisa kolom lain, baik Kalau mahasiswa maupun kolom suara pembaca.

Bahkan, keberadaan kolom suara pembaca pun mempunyai manfaat yang sangat besar bagi perubahan. Di Amerika orang yang menulis di kolom suara pembaca disebut sebagai The influential American, orang-orang Amerika yang berpengaruh. Pasalnya, isi dari kolom suara pembaca adalah kritik sosial yang datang langsung dari masyarakat kalangan bawah yang harus didengar oleh banyak orang, tidak terkecuali oleh pemerintah.

Melihat pentingnya berorganisasi, membaca dan menulis maka sudah sepantasnya setiap mahasiswa menjadi mahasiswa "BBM". Semoga dengan adanya ikhtiar ini, peran mahasiswa sebagai Agent of Change bisa benar-benar dirasakan oleh masyarakat luas, dan nantinya mereka mampu memimpin bangsa ini jauh lebih baik lagi.