Selasa, 18 April 2023

Pelajaran Mengarang

Pelajaran mengarang sudah dimulai.
"Kalian punya waktu 60 menit, "ujar ibu guru Tati. Anak-anak kelas 5 menulis dengan kepala hampir menyentuh meja. Ibu guru Tati menawarkan tiga judul yang ditulisnya di papan putih. Judul pertama keluarga kami yang berbahagia, judul yang kedua liburan ke rumah nenek dan judul yang terakhir ibu.

"IBU guru Tati memandang anak-anak manis yang menulis dengan kening berkerut. Terdengar gesekan halus pena pada kertas. Anak-anak itu sedang tenggelam ke dalam dunianya pikir ibu Tati. Dari balik kacamatanya yang tebal, ibu guru Tati memandang 40 anak yang manis, yang masa depannya masih panjang, yang belum tahu kelak akan mengalami nasib macam apa.

10 menit segera berlalu. Tapi Sandra, bocah 10 tahun belum menulis sepatah kata pun di kertasnya. Ia memandang keluar jendela. Ada dahan bergetar ditiup angin yang kencang. Ingin rasanya ia lari keluar kelas meninggalkan kenyataan yang sedang bermain di kepalanya. Kenyataan yang terpaksa diingatnya, karena ibu guru Tati menyuruhnya berpikir tentang keluarga kami yang berbahagia, liburan ke rumah nenek dan ibu. Sandra memandang ibu guru Tati yang dengan tatapan benci.

Setiap kali tiba saatnya pelajaran mengarang, Sandra selalu merasa mendapat kesulitan yang besar, karena ia harus betul-betul mengarang. Ia tidak bisa bercerita apa adanya seperti anak-anak yang lain. Untuk judul apapun yang ditawarkan ibu guru tadi anak-anak sekelasnya tinggal menuliskan kenyataan yang mereka alami. Tapi Sandra tidak, Sandra harus mengarang. Dan kini Sandra mendapatkan pilihan yang semuanya tidak menyenangkan.

Ketika berpikir tentang keluarga kami yang berbahagia, Sandra hanya mendapatkan gambaran sebuah rumah yang berantakan. Botol-botol dan kaleng-kaleng minuman yang kosong berserakan di meja, lantai bahkan sampai ke tempat tidur. Tumpahan bir berceceran di atas kasur yang spreinya terseret entah ke mana. Bantal-bantal tak bersarung, pintu yang tak pernah tertutup dan sejumlah manusia yang terus-menerus mendengkur bahkan ketika Sandra pulang dari sekolah.
"Lewat belakang saja anak jadah, jangan ganggu tamu mama, "ujar sebuah suara dalam ingatannya yang ingin selalu dilupakannya.

                                *****

15 menit telah berlalu. Sandra tak mengerti apa yang harus dibayangkannya tentang sebuah keluarga yang berbahagia.
"Mama, apakah Sandra punya papah?"
"Tentu saja punya anak setan! Tapi tidak jelas siapa! Dan kalaupun jelas siapa, belum tentu ia mau jadi papah kamu! Jelas? Belajarlah untuk hidup tanpa seorang papa! Tahi kucing dengan papa! "
Apakah Sandra harus berterus terang? Tidak, ia harus mengarang. Namun ia tidak punya gambaran tentang sesuatu yang pantas ditulisnya.

20 menit telah berlalu. Ibu guru Tati mondar-mandir di depan kelas. Sandra mencoba berpikir tentang sesuatu yang mirip dengan liburan ke rumah nenek dan yang masuk dalam benaknya adalah gambar seorang wanita yang senang berdandan di muka cermin. Seorang wanita dengan wajah yang penuh kerut yang merias dirinya dengan sapuan warna yang serba tebal. Merah itu sangat tebal pada pipinya, hitam itu sangat tebal pada alisnya dan wangi itu sangat memabukkan Sandra.
"Jangan rewel anak setan! Nanti kamu kuajak ke tempatku kerja, tapi awas ya kamu tidak usah ceritakan apa yang kamu lihat pada siapa-siapa mengerti? Awas! "
Wanita itu sudah tua dan menyebalkan. Sandra tak pernah tahu siapa dia ibunya memang memanggilnya mami. Tapi semua orang didengarnya memanggil dia mami juga. Apakah anaknya begitu banyak tanda tanya ibunya sering menitipkan Sandra pada mami itu kalau keluar kota berhari-hari entah ke mana.

Di tempat kerja wanita itu meskipun gelap Sandra melihat banyak orang dewasa berpeluk-pelukan sampai lengket. Sandra juga mendengar musik yang keras tapi mami itu melarangnya menonton.
"Anak siapa itu?"
"Marti."
"Bapaknya? "
"Mana aku tahu ! "
Sunrise sampai sekarang tidak mengerti mengapa ada sejumlah wanita duduk di ruangan kaca ditonton semua lelaki yang menunjuk-nunjuk mereka.
" Anak kecil kok dibawa ke sini sih? "
"Ini di depan si marti. Aku tidak mungkin meninggalkannya sendirian di rumah, diperkosa orang marah repot nanti. "
Sandra masih memandang keluar jendela. Ada langit yang biru di luar sana, seekor burung terbang dengan kepakan sayap yang anggun.

                             *****

30 menit lewat tanpa permisi. Sandra mencoba berpikir tentang ibu, apakah ia akan menulis tentang ibunya? Sandra melihat seorang wanita yang cantik. Seorang wanita yang selalu merokok, selalu bangun siang yang kalau makan selalu pakai tangan dan kaki kanannya selalu naik ke atas kursi.
Apakah wanita itu ibuku, ia pernah terbangun malam-malam dan melihat wanita itu menangis sendirian. 
"Mama, Mama kenapa menangis mama? "
Wanita itu tidak menjawab ia hanya menangis sambil memeluk Sandra. Sampai sekarang Sandra masih teringat kejadian itu, namun ia tak pernah bertanya-tanya lagi ada titik Sandra tahu, namun ia tak pernah bertanya-tanya lagi. Sandra tahu setiap pertanyaan hanya akan dijawab dengan,
"Diam anak setan!" Atau " bukan urusanmu anak jadah! "Atau "sudah untung kamu kukasih makan dan ku sekolahkan dengan baik-baik, jangan cerewet kamu anak sialan! "

Suatu malam wanita itu pulang merangkak-rangkak karena mabuk tanda titik di ruang depan ia muntah-muntah dan tergeletak tidak bisa bangun lagi. Sandra mengepel muntahar-muntahan itu tanpa bertanya-tanya, wanita yang dikenalkannya sebagai ibu itu sudah biasa pulang dalam keadaan mabuk.
"Mama kerja apa sih?"
Sandra tak pernah lupa, betapa banyaknya kata-kata makian dalam sebuah bahasa yang bisa dilontarkan padanya karena pertanyaan seperti itu.
Tentu anda tahu wanita itu mencintainya. Setiap hari Minggu Wanda itu mengajaknya jalan-jalan ke plaza ini dan ke plaza itu. Di sana Sandra bisa mendapatkan boneka, baju, es krim, kentang goreng dan ayam goreng. Dan setiap kali Sandra makan wanita itu selalu menatapnya dengan penuh cinta dan seperti tidak puas-puasnya. Wanita itu selalu melapuk Sandra yang belepotan dengan es krim sambil berbisik, "Sandra, Sandra..... "

Kadang-kadang, sebelum tidur wanita itu membacakan sebuah cerita, dari sebuah buku berbahasa Inggris dengan gambar-gambar berwarna selesai membacakan cerita wanita itu akan mencium Sandra dan selalu memintanya berjanji menjadi anak baik-baik.
"Berjanjilah pada Mama, kamu akan jadi wanita baik-baik Sandra . "
"Seperti mama ? "
"Bukan seperti mama . Jangan seperti mama. "
Sandra selalu belajar untuk menepati janjinya dan ia memang menjadi anak yang patuh. Namun wanita itu tak selalu berperilaku manis begitu, Sandra lebih sering melihatnya dalam tingkah laku yang lain. Maka berkelebatan di benak Sandra bibir merah yang terus-menerus mengeluarkan asap, mulut yang selalu berbau minuman keras, mata yang kuyu, wajah yang pucat dan pager....
Tentu saja Sandra selalu ingat apa yang tertulis dalam pagar ibunya. Setiap kali pagar itu berbunyi kalau sedang merias diri di muka cermin, wanita itu selalu meminta sandera memecat tombol dan membacakannya.
DITUNGGU DI MANDARIN, KAMAR 505, PKL 20.00
Sandra tahu, setiap kali pagar ini menyebut nama hotel, nomor kamar dan sebuah jam pertemuan ibunya akan pulang terlambat. Kadang-kadang malah tidak pulang sampai 2 atau 3 hari. Kalau sudah begitu Sandra akan merasa sangat merindukan wanita itu tapi begitulah ia sudah belajar untuk tidak pernah mengungkapkannya.

                                *****

40 menit lewat sudah.
"Yang sudah selesai boleh dikumpulkan," kata ibu guru Tati.
Belum ada secoret kata pun di kertas Sandra, ia masih putih bersih tanpa setitikpun noda. Beberapa anak yang sampai hari itu belum mempunyai persoalan yang terlalu berarti dalam hidupnya menulis dengan lancar. Beberapa diantaranya sudah selesai dan setelah menyerahkannya segera berlari keluar kelas. Sandra belum tahu judul apa yang harus ditulisnya.
"Kertasmu masih kosong Sandra ? "Ibu guru tadi tiba-tiba bertanya.
Standar tidak menjawab. Ia mulai menulis judulnya ibu. Tapi begitu ibu guru tadi pergi, ia melamun lagi. "Mama, mama" bisiknya dalam hati. Bahkan dalam hati pun Sandra telah terbiasa hanya berbisik.
Dia juga hanya berbisik malam itu, ketika terbangun karena dipindahkannya ke kolong ranjang. Wanita itu barangkali mengira ia masih tidur. Wanita itu barangkali mengira karena masih tidur maka Sandra tak akan pernah mendengar suara lengkuahannya yang panjang maupun yang pendek di atas ranjang. Wanita itu juga tak mengira bahwa Sandra masih terbangun ketika dirinya terkapar tanpa daya dan lelaki yang memeluknya sudah mendengkur keras sekali. Wanita itu tak mendengar lagi ketika di kolong ranjang Sandra berbisik tertahan-tahan, "mama, mama"dan pipinya basah oleh air mata.
"Waktu habis, kumpulkan semua ke depan" ujar ibu guru Tati.
Semua anak berdiri dan menumpuk karangannya menuju meja guru. Sandra menyelipkan kertas di tengah.

                               *****

Di rumahnya, sambil menonton RCTI. Ibu guru Tati yang belum berkeluarga memeriksa pekerjaan murid-muridnya. Setelah membaca separuh dari tumpukan karangan itu, ibu guru Tati berkesimpulan murid-muridnya mengalami masa kanak-kanak yang indah.
Iya memang belum sampai pada karangan Sandra yang hanya berisikan kalimat sepotong:
Ibuku seorang pelacur.....