Minggu, 06 Februari 2022

Sisi lain Si Angkuh "KARNA" Yang menginspirasi

Dalam setiap institusi pendidikan mengajarkan dan menceritakan akan keindahan dari karya sastra yang sangat luar biasa ini. Tak banyak penikmat sastra yang benar-benar mendalami makna serta nilai-nilai kehidupan dari kisah wiracarita Mahabharata. Sejauh ini kisah dari Mahabharata sendiri selalu diakhiri dengan kemenangan para Pandawa melawan 100 Kurawa saudaranya dan membunuh para komplotan penjahat Hastinapura.

Ada salah satu tokoh yang penting dalam cerita Mahabharata ini. Ia adalah raja Angga Karna. Tokoh antagonis dalam cerita Mahabharata. Dalam wiracarita Mahabharata Karna selalu digambarkan sebagai orang yang sombong dan watak yang sangat keras. Kelahiran Karna merupakan anak dari dewa Surya dan ibu kunti ketika tak sengaja meminta doa.

Siapa sangka, anak yang dilahirkan dan dibuang oleh ibu Kunti dialiri ke dalam sungai itu bisa menjadi Ksatria yang sangat hebat bahkan dapat melebihi anak ketiga dari ibu Kunti sendiri dengan perkawinan Pandu dewanata yaitu Arjuna. Takdir mengatakan bahwa Karna adalah saingan terberat dari pangeran Arjuna bahkan senjatanya pun dapat melebihi senjata-senjata yang dimiliki oleh Arjuna sendiri. Namun dibalik dari perwujudannya yang sangat arogan ini banyak nilai-nilai yang dapat diselami dari tokoh Karna.

Takdir raja Angga Karna
Takdir merupakan sesuatu yang para dewa tak dapat menyalaminya. Hal yang tak dapat diselami oleh akal rendah manusia, tak dapat ditolak, hanya dapat dihadapi. Namun keserakahan manusia tak jarang ingin mencegah datangnya hal itu.

Mengenai takdirnya raja Angga Karna telah mengetahui bahwa kelak ia akan terbunuh dalam keadaan yang tak berdaya ia tak memegang senjata dan ia akan kehilangan semua ilmu yang telah dipelajarinya oleh Parasurama ketika ia belajar di padepokan Sang guru. Mengetahui tentang takdirnya tersebut ia tidak menolaknya, tidak lantas dengan serakah memburu seseorang yang bisa membunuhnya bahkan ketika ia tahu bahwa yang membunuhnya sendiri adalah adiknya yang bernama Arjuna. bahkan ia tahu bahwa di dalam peperangan baratayuda ia akan berhadapan dengan saudara-saudaranya. Tak bergeming untuk tidak ikut di dalam peperangan tersebut tetapi malah justru karena memuliakan saudara-saudaranya yang berada di medan pertempuran kurusetra.

Raja Angga Karna mungkin bisa dikatakan sebagai manusia yang mulia dibandingkan dengan manusia lainnya. Meski ia adalah lambang dari orang yang sombong dan tak ingin mengikuti suatu peraturan. Hidup dan mati bukanlah masalah bagi raja Angga Karna. Bahkan seluruh manusia yang berada di kurusetra menangis ketika mendengar kabar bahwa raja Angga Karna telah menghembuskan nafas terakhirnya.

Alkisah, ia juga pernah sempat putus asa karena ia bimbang ia ingin membela adik-adiknya ketika perang di Kurukshetra atau membela sahabatnya yang telah membesarkan namanya. Hal itu membuatnya tersiksa bahkan menjadi kesalahan terbesar dalam hidupnya. Namun Krisna memberi nasihat kepada Karna bahwa dirinya. Penderitaannya ada karena karmanya sendiri untuk menyeimbangkan antara Dharma dan Adharma dibumi.

Tanpa adanya Karna mungkin Bharatayudha tak akan seru dengan kehadiran pemanah ulung seperti sosok dirinya. Sampai akhirnya karena menyetujui bahwa Karna memilih ikut dalam pasukan Kurawa dalam memerangi adik-adiknya yaitu Pandawa. Padahal dia tahu bahwa Kurawa adalah pihak yang salah. Tapi lebih salahnya lagi jika ia memilih para adik-adiknya ia akan mencemari nama dari Pandawa sendiri karena ia mempunyai saudara yang berkhianat terhadap kerajaan dan akan menodai kesucian dari ibu Kunti karena kelahirannya.

Keteguhan hati sang Karna
Bertahun-tahun sebelum para Pandawa dilahirkan. Karna sudah merasakan penderitaan yang amat dahsyat dalam hidupnya. Iya bertemu dengan para petinggi kerajaan yang menginjak-injak harga diri dan martabat keluarganya yang hanya seorang kusir dari kasta rendah. Karena keserakahannya, para petinggi itu tak menghargai bahwa Karna juga mempunyai bakat terpendam dalam menggunakan senjata beladiri dan tak pernah memuliakan para kaum yang sama dengannya.

Bertahun-tahun Karna menjalani hidup yang sangat tak mengenakkan. Sampai akhirnya karena memutuskan untuk keluar dari zona nyamannya mencari guru yang yang bisa mengajarinya nya sampai ia ahli dalam bermain senjata dari situlah perjalanan Karna dimulai. Bahkan Karna mendapatkan penolakan dari guru yang agung yaitu Durna untuk belajar ilmu darinya dengan alasan bahwa Karna bukan merupakan dari anak pangeran kerajaan.

Karena hal itu Karna menjadi sakit hati dengan Durna dan ia berjanji ketika ia kembali nanti ia akan menjadi pemanah yang handal bahkan melebihi semua murid-muridnya. Dan sampai akhirnya karena menemui padepokan Parasurama dengan menyamar sebagai Brahma untuk belajar beladiri dan bersenjata. Dan Karna akhirnya diterima sebagai murid dan belajar di padepokan Parasurama.

Tahun demi tahun berlalu, Karna remaja kini sudah menjadi Karna yang piawai dalam memainkan senjata dan ilmu beladiri, akhirnya menemui ingin Durna. Dan ia melihat bahwa Durna sekarang sudah diangkat menjadi panglima kerajaan Hastinapura karena ia telah berhasil mencetak para pangeran Hastinapura menjadi pangeran yang handal dalam bersenjata dan beladiri. Tak ingin ketinggalan, Karna akhirnya mengikuti acara pangeran di kerajaan Hastinapura ia masuk tanpa permisi dan akhirnya ia menjadi bahan cemoohan lagi di masyarakat karena ia dinilai sebagai orang yang tak beradab masuk tanpa permisi di dalam acara besar yaitu acara kelulusan para pangeran Hastinapura.
Menjemput kematian
Tak banyak orang yang tahu bahwa Karna sudah mengetahui takdirnya sebelum perang kurusetra berlangsung. Tetapi karena teguh menjalani pendiriannya dan ada di pasukan Kurawa. Yang ia hadapi adalah adik adiknya sendiri yang mana tega bahwa Karna membunuh adik adiknya yang terlahir dari rahim ibu Kunti. Hanya karna yang tahu dan Karna berjanji kepada ibu Kunti ia tak ingin bahwa identitasnya diketahui oleh para adiknya yang membuat mereka tak bergairah ketika perang baratayuda berlangsung.

"Aku tak ingin jika identitasku diketahui oleh adik-adikku, ibu hanya boleh memberi tahu identitas ku ketika pertarungan ku dengan Arjuna sudah selesai, entah aku yang akan kalah atau Arjuna yang akan kalah. Jika arjuna yang kalah aku sendiri yang akan memimpin para pasukan Pandawa untuk melawan para Kurawa. Apabila aku yang kalah tolong makamkan lah aku selayaknya aku adalah kakak mereka."

Sebagaimana seorang ksatria ia terlahir untuk memegang senjata dan ia akan mati dalam keadaan memegang senjata juga. Yang mengakhiri kisah dari kehidupan Karna ialah terhubusnya anak panah dari Arjuna yang menembus lehernya dan Karna akhirnya menghembuskan nafas terakhir.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar